benny's Site

Blog EntryParadoks cinta sebagai panggilan (Martin Buber)Mar 24, '08 1:06 PM
for everyone
"Aku-Itu"
dalam relasi "aku-itu", sesama di perlakukan sebagai objek. sesamaku  kuperlakukan seperti benda saja. aku mempergunakannya sejauh ia beruntung bagiku. aku tidak menghiraukannya jika aku tidak membutuhkannya. aku mau membentuk dia sebagaimana aku memberi bentuk pada tanah, kayu, atau batu. aku tidak menghiraukan diri sesama sebagai sang unik dan otonom. Sesamaku menjadi sahabatku karena uangnya banyak, kedudukannya tinggi, ia cantik, atau karena kepintarannya. kalau uangnya habis, kecantikannya pudar atau kepintarannya sirna, maka orang itu  tidak berguna lagi bagiku. pergaulan ini tidak memberi sumbangan bagi perkembangan diri sesama, tidak sesuai dengan martabatnya sebagai pribadi yang utuh dan unik.

disamping itu, aku tidak bebas lagi sebab kebebasan mutlak, hanya mungkin kalau aku sendirian saja. Sesamaku merupakan ancaman dan penyerang yang harus di hindari. aku harus melawan sorotan mata orang lain, karena ia melihat aku, maka akulah objeknya. aku harus meniadakan sesamaku sebagai subjek. aku benci sesamaku oleh sebab itu  jalan satu-satunya aku harus meniadakan diri sesamaku, sehingga ia tidak mempunyai kesempatan lagi  untuk mengobjekan diriku. Mustahil aku menjadi subjek yang bebas jika ia terus-menerus menyoroti aku. aku menjadi takut dan malu. Sorotan mata orang menjadi neraka bagiku. Allah juga mesti ditiadakan karena mata-Nya.Ia mengejar aku kemana pun aku pergi dan aku tidak akan pernah bisa bersembunyi dari-Nya.

"Aku-Dia"
dalam relasi "Aku - Dia", sesamaku tidak,diobjekkan, melainkan diakui sebagai subjek.Sikapku kepadanya dalah netral dan acuh-tak acuh. orang tidak memperhatikan sesamanya. Aku tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan atau kesejahteraan orang lain begitu pun kemalangannya. pergaulanku dangan dia bersifat anonim dan sejauh ia berfungsi. Aku tidak mencintainya, dan juga tidak membencinya. hubunganku dengan orang tersebut tidak lebih daripada penjual karcis di Bioskop 21,atau seorang yang mencuci bajuku. Namanya tidak kukenal dan aku tidak berminat untuk mengenalnya. Aku sudah gukup sibuk dengan urusanku sendiri. dengan sengaja kujaga pergaulanku agar tetap pada taraf anonim saja. Semakin anonim pergaulanku semakin terhindarlah bahaya terjadinya percecokan. Demikianlah pemikiran manusia modern masa kini, terutama mereka yang tinggal di perkotaan. manusia dihargai sesuai dengan fungsinya di masyarakat. Nilai seseorang bukan lagi dilihat dari dirinya sendiri. Dalam dunia ramai  aku merasa kesepian. Kita semua sibuk dan repot dengan fungsi kita masing-masing."Ini jalan satu-satunya yang membuat semua hal menjadi lancar." Benarkah demikian?
 
"Aku-Engkau"
relasi yang ketiga adalah relasi "Aku-Engkau", manusia sebagai mahluk sosial merindukan suatu kesatuan dan kebersamaan yang semakin luas dan semakin mendalam.Manusia sebagai pribadi yang ingin diakui dalam keunikannya,dan kekhasannya. Maka, manusia terarah  pada suatu kesatuan dimana keunikannya tidak terhapus,melainkan diakui dan diteguhkan.

Dalam cinta kuhayati suatu seruan untuk menciptakan suatu iklim pergaulan yang didalamnya semua orang dapat menjadi diri sendiri. Pengaruh pribadi yang satu atas pribadi yang lain dalam relasi cinta bersifat bebas, aktif, dan kreatif. Dalam kebersamaan yang penuh cinta, aku menjadi aku dan engkau menjadi engkau. Dalam kesatuan cinta, tembok-tembok yang memisahkan orang yang satu dangan orang yang lain dihancurkan dan orang merasakan kesatuan. Perbedaan dan keunikan  bukanlah rintangan, melainkan dihayati sebagai sesuatu yang memperkaya. Dalam kesatuan cinta, otonomi dan kebebasan bersama diakui dan kreatifitasnya dirangsang . Dalam cinta, aku menjadi satu dengan sesama,dan mesing-masing semakin menuju kekhasannya yang unik.
Cinta adalah suatu aktifitas yang tidak bersifat pasif belaka. Dalam cinta aku keluar dari diriku sendiri dan aku terarah kepada sesama. Diri  seseorang aku hayati sebagai orang yang bernilai dan berharga karena dirinya sendiri. Motivasinya tidak berdasar pada suatu sifat tertentu,melainkan pada diri orangnya. "Aku mencintaimu karena kamu adalah kamu." Bukan karena kamu pandai,atau karena kedudukanmu tinggi,atau karena cantik atau tampan. Pendasaran relasi ini bukan sesuatu yang bersifat sementara saja. Cinta selalu mengatakan, " Engkau tidak boleh mati."Cinta merasa  diri bertanggung jawab atas diri sesamanya.  Sesamaku  tidak bersifat rohani saja,  melainkan suatu dwitunggal  roh dan badan.

Semakin sempurna  cinta, maka sesama semakin diakui dan dihargai dalam keunikannya (kekelebihan serta kekurangan, kekuatan serta kelemahannya). Iri hati berubah menjadi rasa kagum. Justru dalam keberbedaanlah kita saling memperkaya.

salam jatuh cinta
www.sni-dt88.com/?sp=8840400








Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help