benny's posts with tag: puisi
PUISI
Puisi itu lautan luas yang ingin kita tampung didalam kedua tangan. meskipun hati kita cukup luas untuk ditempati
Puisi adalah angin yang membawa kita terbang telanjang ke tempat yang belum kita kenal. dan dengan imajinasi kita merasa bebas berada di sana tetapi kita selalu ingin pulang. Juga seperti tanah. dalam perutnya yang besar tumbuh bunga beraneka warna dan keharuman, pohon, buah segala bentuk dan rasa, membuat kita melihat kedalamannya yang samar-samar dimana tersimpan rahasia yang belum kita ketahui
Puisi adalah api yang abadi di dasar nurani dalam kehidupan ingin melelehkan hati yang membatu
PEREMPUAN YANG MENANAM
Perempuan yang menanam bunga disore hari segala tanda yang engkau sempatkan dalam diamku tuntas sudah terbaca
pergilah tidur jangan cari alasan agar terjaga bunga yang engkau tanam tidak akan tumbuh dalam sehari
yah. tuntas sudah kumengerti perempuanku, lewat sementara hitam rambutmu lewat sementara lentik, bening bola matamu
aku mencari hatimu yang tidak pernah tua
BIAR TINGGAL KENANGAN
apa yang kau cari dalam pekat malam ? begitu hidup menguncup tanya apa di langit ada jawabnya?
cukup sudah teriakmu beratkan udara cukup sudah dan jangan darahmu sampai menetes
kau harus memilih antara hidup dan kesedihan saat pagi kembali menagih biarlah tangismu jadi kenangan
AYAT-AYAT MATI
senja di persimpangan seperti berabad lalu bertukar kisah dingin yang tidak pernah usai saat garis senyummu pudar mungkin cinta, mungkin benci
teruslah bicara agar sepi yang angkuh tidak menelan segala
hingga dari bait ini jejakku sampai di pantai
namun sebenarnya rapuh saat engkau menukarnya dengan tawa atau tangis
segala rasa adalah sama begitu beku tak jelas arti
DIGARIS TAKDIR
kami yang patah hati punya cinta paling palung tak pernah tuntas menelan rindu relung
kami bawa luka paling dalam dan sendiri
yang kami cintai digaris takdir tidak menyatu
TIGA BAIT UNTUK KEMBALI
kita teman, tak biasa hanya diam ada gembira ada tangis kala ada yang berbelok arah akan ada luka
kita teman seperti tak bisa sendiri pergi bersama pulang bersama kala ada yang tertinggal pasti ada yang mencari
kita teman menyatu rasa jika ada yang terluka kita rasa sama-sama bila makan tak bersama rasa ganjil itu ada DANAU DI MATAMU
seharusnya ada ruang di sudut matamu agar aku tidak bergantung pada ranting-ranting sedih tangis kemarin belum kering kini alasan apa engkau tumpahkan kembali
Jangan lagi menangis jika angin telah mati dan diatas perahu aku tetap tidak menepi
jika malam ini engkau melihat bintang dari langit berbeda aku juga melihatnya danau itu abadi begitu juga sayangku
PANGGUNG KEMISKINAN
kemiskinan ini seperti dulu menyapa di pinggir jalan menjual luka terik matahari
kemiskinan ini seperti seperti kemarin tertidur di badan jalan lapar tanpa alas menadah receh
kemiskinan ini masih seperti kemarin begitu merayu hati berbelas kasihan hingga muak Benny Tjundawan
| |
|